Viva TN for the next future

19 June 2010 Leave a comment

Prasetya Alumni SMA TN 2010

Para alumni SMA Taruna Nusantara di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, mengemban tugas penting sebagai perekat dan sekaligus pilar atas kukuhnya persatuan Bangsa Indonesia pada masa mendatang.

“Kalian sebagai alumni SMA Taruna Nusantara (TN) akan menjadi perekat sekaligus pilar persatuan bangsa,” kata Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro.

Menhan mengatakan hal itu dalam sambutan tertulis saat Penutupan Pendidikan dan Prasetya Alumni Angkatan XVIII SMA Taruna Nusantara yang dibacakan Direktur Jenderal Potensi Pertahanan Kemhan, Budi Susilo Supandji, di Magelang, Sabtu.

Mereka, katanya, bersama-sama dengan komponen kekuatan bangsa yang lain membangun Indonesia untuk mencapai masyarakat madani yang maju, adil, makmur, aman, damai, dan sejahtera berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Ia mengatakan, para alumni akan mulai terjun ke dunia yang lebih luas dan berbeda dengan situasi kehidupan di asrama.

Mereka, katanya, harus secara pandai membawakan diri dengan memegang teguh jati diri sebagai lulusan sekolah unggulan yang menekankan kepada penanaman berbagai nilai pendidikan nasionalisme dan patriotisme itu.

“Jangan mudah terombang-ambing oleh keadaan yang dapat menjerumuskan kalian. Dunia dan lingkungan strategis akan selalu bergerak dan berubah. Harus kalian ingat baik-baik bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini kecuali perubahan itu sendiri,” katanya.

Ia menyatakan, sukses para alumni di dunia kerja dan profesi harus selalu berlandaskan kepada jiwa kebangsaan, nasionalisme, dan patriotisme yang kukuh. Keberadaan Bangsa Indonesia yang majemuk, katanya, terbukti rentan terjadinya desintegrasi.

Ia mengatakan, generasi muda Indonesia yang bersatu merupakan modal terbesar untuk membangun bangsa dan negara menuju kemajuan pada masa mendatang.

Sebanyak 295 lulusan SMA TN 2010 menjalani wisuda. Mereka terdiri atas Program Ilmu Pengetahuan Alam 236 lulusan dan Ilmu Pengetahuan Sosial 59 lulusan.

Bintang Garuda Tri Sakti Taruna Tama yang merupakan penghargaan kepada lulusan berprestasi terbaik untuk kebulatan aspek akademik, kepribadian, dan kesamaptaan jasmani diraih oleh Guinandra Luthfan Jatikusumo (medali emas), Kristanto Irawan Putra (perak), dan Tegar Aji Widhiwardhana (perunggu).

Penghargaan Kartika Cendekia yang merupakan lulusan terbaik untuk aspek akademik berdasarkan pencapaian nilai tertinggi ujian nasional dan ujian sekolah diraih oleh Agung Hartoko (Program IPA) dan Yoga Aprianto Aldila (IPS).

( Source : kompas.com Sabtu, 19 Juni 2010 | 12:54 WIB )

Advertisements
Categories: BUDAYA

WC 2010 : Kisah Tragis II

17 June 2010 Leave a comment
Gara-gara Piala Dunia, Bapak Dibunuh Istri dan Anak

Kisah tragis seputar Piala Dunia 2010 terus berlanjut. Setelah dua anak mati sia-sia karena terpanggang di rumah, kini giliran seorang bapak di Afrika Selatan, yang meninggal lantaran dipukul istri dan dua anaknya, gara-gara rebutan remote televisi.

David Makoeya, pria berusia 61 tahun yang berasal dari sebuah desa kecil di Makweya, Provinsi Limpopo, berkelahi dengan istri dan dua anak mereka karena berebut remote control TV. Sang ayah ingin menonton siaran langsung Piala Dunia antara Jerman dan Australia pada Senin (14/6/2010), sedangkan yang lain ingin menyaksikan program religius.

“Dia berkata, ‘Tidak, saya ingin menonton sepak bola’,” ujar juru bicara kepolisian, Mothemane Malefo, Kamis (17/6/2010). “Itu terjadi ketika adu argumentasi. Saat itulah, mereka mulai menyerangnya,” ucapnya.

Malefo mengatakan, Makoeya mengganti channel televisi dan setelah itu membuang remote control. Istri, Francina (68), serta anak laki-laki dan perempua, Collin (36) dan Lebogang (23), marah dengan perbuatan ayah mereka sehingga langsung menyerang.

Hanya, Malefo tidak bisa memastikan senjata apa yang dipakai ibu dan dua anak itu untuk membunuh Makoeya.

“Tampaknya, mereka membenturkan kepalanya ke tembok,” ungkap Malefo. “Mereka menelepon polisi segera setelah dia cedera parah. Namun, ketika polisi datang, laki-laki itu sudah meninggal,” ucapnya.

Mereka bertiga ditahan pada Senin malam. Namun, Lebogang dilepas setelah membayar 1.500 rand (200 dollar AS) pada hari Selasa. Yang lainnya masih ditahan.

Sebelumnya, kisah tragis juga terjadi di Uganda. Gara-gara ingin menonton siaran langsung Piala Dunia lewat televisi, sepasang orangtua meninggalkan dua anaknya yang berusia 8 dan 10 tahun di rumah setelah menyalakan sebuah lilin. Mereka pergi ke pusat perdagangan yang dekat dengan rumah.

Ternyata, lilin ditabrak tikus dan api menyambar taplak meja. Tak menunggu waktu lama, api menjalar ke seluruh rumah, termasuk dua anak yang tertidur itu.

( Source : kompas.com Kamis,17 Juni 2010 | 22:41 WIB )

Categories: SOSIAL

WC 2010 : Kisah Tragis I

17 June 2010 Leave a comment
Tragis! Ortu Nonton Bola, Anak Mati Terpanggang

Ini pelajaran sekaligus peringatan bagi para orang tua (ortu) yang keranjingan menonton siaran langsung Piala Dunia, agar tetap memperhatikan anak-anaknya, terutama yang masih kecil. Jangan seperti yang terjadi di Uganda, di mana dua anak berusia 8 dan 10 tahun, meninggal sia-sia karena keteledoran orang tua mereka.

Polisi melaporkan, dua anak kecil Uganda mati karena terpanggang api, ketika kedua orang tuanya ke luar rumah untuk menonton televisi siaran langsung Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Dua anak kecil tersebut berasal dari Kayunga, di kawasan barat Kampala.

Ofisial polisi Kayunga Henry Kolyanga mengatakan, rumah di mana anak-anak itu tidur, terbakar. “Ibu dan ayah anak-anak itu menyalakan sebuah lilin untuk penerangan di rumah, lalu mereka pergi untuk menonton televisi di sebuah pusat perdagangan,” ujar Kolyanaga.

Dia menambahkan, lilin itu kemungkinan jatuh karena ditabrak tikus dan membakar taplak meja, dan kemudian menjalar ke seisi rumah, termasuk memanggang dua anak kecil tersebut.

( Source: kompas.com Rabu,16 Juni 2010 | 00:18 WIB )

Categories: SOSIAL

Jakarta oh Jakarta …

16 June 2010 1 comment

Hidup dan tinggal di Jakarta merupakan hal yang baru bagi saya. Sebuah kota yang sarat dengan berbagai hiruk pikuk kehidupan baik tradisional maupun modern. Kiranya perlu kesiapan fisik dan mental yang prima untuk dapat menghadapi fan melalui hari-hari saya bersama keluarga ke depan.

Setelah mencoba membaca situasi dan mengadaptasikan diri selama beberapa pekan ke belakang, rupanya banyak hal yang bisa saya pahami. Kemacetan lalu lintas, kualitas udara yang buruk, sistem transportasi yang jauh dari harapan publlik dan seterusnya ternyata sangat akrab dengan kota ini. Kompleksitas tantangan yang harus saya hadapi bersama keluarga dan perlu kiat-kiat khusus untuk mengatasinya minimal untuk kurun waktu lima tahun mendatang.

Eniwei, berbagai pertanyaan gundah muncul di benak saya. Kenapa sekitar 8-10 juta warga Jakarta tenang-tenang saja menghadapi fenomena ini? Apakah mereka telah mampu beradaptasi atau bahkan berevolusi fengan situasi kota yang cenderung ‘kejam’ ini ? Apakah para pemangku kepentingan kota tidak mampu me-manage pembangunan kota agar lebih bermartabat bagi para warganya?

Yah, semuanya itu seakan menjadi pertanyaan retoris tanpa makna manakala tidak ada aksi dsn langkah nyata ke arah perubahan yang signifikan. Setahun, dua tahun bahkan seabad pun tiada akan beraeti jika tidak ada political will dari beliau-baliau yang punya wewenang.

Jarum jam sang waktu akan terus berlari meninggalkan kita. Akankah kota ini bisa dirubah ke arah yang lebih baik?

Semoga …